Finding Nemo

Image

Dimas Geronimo alias Nimo. Sebuah nama yang kau pikir akan mewakili sebuah rasa. Rasa akan obsesi yang begitu dalam dari seorang Apradita Arrahmi. Nimo bisa menjadi siapa saja, bisa jadi kau – mungkin ada seseorang yang sejak dulu selalu mengawasimu dari jauh, memantau perkembangan kehidupanmu mulai dari hari ulang tahunmu, zodiakmu, nama-nama keluargamu, sampai kehidupan percintaanmu, siapa-siapa saja yang pernah menjadi pacarmu.. seperti mata-mata.

Begitu pula Rahmi, dia bisa saja kau atau siapapun, yang sangat terobsesi akan sesuatu yang berbau Nimo. Rahmi yang bodoh, yang selalu gagu dan kehilangan kata-kata bila bertemu Nimo. Seakan neuron diotaknya tiba-tiba berhenti berfungsi, sehingga dia tidak dapat berfikir dan motoriknya jadi kacau. Rahmi yang selalu mempercayai bahwa semua yang dia temukan yang berhubungan dengan Nimo adalah sebuah pertanda dari Yang Maha Kuasa akan kehidupannya kelak bersama Nimo.

Dan diantara Nimo dan Rahmi, ada seorang bernama Danang Raka Soediro – Raka. Entah sebetulnya Nimo yang berada di antara Rahmi dan Raka, atau sebaliknya Rakalah yang berada di antara Nimo dan Rahmi.

Kau pun bisa saja adalah seorang Raka di kehidupanmu. Sosok yang dengan rela membiarkan Rahmi untuk memilih jalan hidupnya sendiri, jalan hidup yang menuju padanya atau pada Nimo – obsesi Rahmi selama hampir sepuluh tahun sejak masa SMAnya. Padahal saat itu status pacar Rahmi miliknya, bahkan sudah hampir bertunangan dan menikah. Tapi Raka dengan persepsi idealisnya tentang cinta, memberikan kebebasan untuk Rahmi. Dia tidak ingin Rahmi menikah dengannya hanya karena tanggal sudah ditentukan, gedung tempat resepsi sudah dipesan, seluruh keluarga besar sudah menyiapkan, tapi hati Rahmi masih penasaran akan cinta yang sudah bercokol di dalam hatinya. Raka hanya ingin Rahmi akhirnya memilihnya karena kata hatinya berkata demikian.

Awalnya aku tak mengerti mengapa Rahmi akhirnya memilih Nimo yang secara ajaib tiba-tiba datang lagi di kehidupannya, bukan Raka yang selama ini menemani hari-hari terburuk dan terindahnya, yang menjadi pahlawan dalam hidupnya. Bukan Raka yang super baik, super sempurna untuk dijadikan seorang suami. Bukan Raka.

***

Bayangkan jika kau di posisi Raka, apakah kau akan dengan suka relanya membebaskan calon tunanganmu memilih Nimo-nya atau dirimu, bahkan kau memfasilitasi mereka untuk saling bertemu? Agar kau lega, dan tidak merasa bahwa kau egois karena tetap menginginkan Rahmi-mu meskipun kau tahu dalam hatinya masih tersisa segala kenangan tentang Nimo-nya.

Apa yang akan kau lakukan jika akhirnya Rahmi-mu memilih Nimo dan bukan dirimu? Apa kau akan memperjuangkan Rahmi-mu atau malah melepaskannya?

Tapi kemudian kau akan sadar, kehidupanmu bukan kehidupan seorang Rahmi, Raka maupun Nimo. Kehidupanmu adalah dirimu. Tak akan bisa disamakan dengan cerita-cerita yang pernah ada. Kau hanya tinggal memainkan peranmu sediri sebagai pemeran utama di kehidupanmu. Semoga Dia selalu mempermudah kita untuk segera menemukan the one-kita, bukan Raka maupun Nimo, just the one-kita.

Advertisements

Jalan Memutar

Image

Kadang kita harus melalui jalan memutar, hanya untuk bisa kemudian menjadi sesuatu yang kita inginkan. Impikan. Cita-citakan. Tujuan yang selalu terpatri dalam diri kita. Bisa jadi itu berlangsung sekejap, atau bahkan harus mengarungi bertahun-tahun yang melelahkan. Bisa jadi itu sesederhana kita membalikkan telapak tangan, atau mungkin sesulit kita mengubah dunia menjadi seperti apa yang kita inginkan.

Ketika impian kita bukanlah sebuah profesi yang cukup dapat dimengerti kebanyakan manusia, mungkin kita butuh jalan memutar agar di kemudian hari kegiatan yang kita lakukan, sebuah pekerjaan yang kita geluti mulai sejalan dengan apa yang kita bayangkan, apa yang kita lihat ketika pelupuk mata mulai menutupkan bayang-banyang dunia yang rumit.

Atau.. ketika cinta mulai kehilangan arahnya. Karena terlalu rumit dengan segala pertimbangan-pertimbangan yang otak kiri lakukan..

Kadang kita harus bersama dengan orang yang salah, sebelum akhirnya bertemu dengan orang yang tepat. Sebuah jalan memutar yang lain.

Kali ini, aku tak berharap sedang melakukan perjalan memutar. Aku yakin jalan yang aku lalui adalah jalan lurus yang bersinggungan dengan sebuah jalan lain yang ujungnya terlihat jelas. Kedua jalan yang memiliki arah sama. Tujuan yang sama. Bukan jalan memutar.


Mr. Right Man

“Kamu memang tidak pernah mengerti apa yang aku mau!” bentakku tajam.
”Ini cuma demi kebaikanmu, Ra! Sampai kapan kamu akan begini?!” jawabnya tak kalah kerasnya.

“Bukan berarti kamu bisa mengatur hidupku seenaknya yah! Aku juga punya hak untuk bebas!”
”Kalau kamu masih seperti ini, terserah. Aku tidak bisa bersama kamu lagi.”

Apa?! Segampang itu dia akan pergi dari sisiku? Kenapa dia tidak bertahan lebih lama untuk membujukku, setidaknnya aku pasti akan menyerah dan mengikuti apa maunya meskipun dengan pura-pura tetap ngambek. Karena aku tahu setiap yang dia inginkan adalah yang terbaik untukku.

Aku melihatnya sengit. “Terserah!”

Aku beranjak pergi meninggalkannya, berharap dia memangil namaku, mencegah kepergianku sambil menarik tanganku. Dua langkah.. tiga langkah.. lima langkah.. Aku mulai penasaran dan berpaling ke belakang. Kudapati punggungnya menjauh, berjalan berlawanan arah denganku.

“Bodoh!” aku mengutuki dirinya – bukan, mengutuki diriku sendiri.

***

Semalaman ponsel yang tergeletak begitu saja di tempat tidurku membisu. Aku meliriknya, tak ada tanda pesan masuk. Aku meliriknya lagi sedetik kemudian, seakan takut melewatkan tanda telpon masuk ataupun pesan yang masuk. Tetap tidak ada.

Ku bantingkan badanku tengkurap di atas tempat tidur. Memalingkan wajahku ke arah ponsel lagi. Menghela nafas berat.

Bagaimana bisa aku melewatkan hari-hariku kemudian jika dia tak lagi ada di sampingku? Dia sudah merupakan candu bagiku. Seperti helaan nafas. Seperti sebuah kebiasaan.

Rrrrrrrr

Terlonjak mendengar ponselku bergetar. Serentak aku meraih ponsel. Aku tersenyum melihat nama siapa yang tertulis di layarnya.

From: My Man
Sudah bangun? Jangan lupa sarapan yah

Lega rasanya. Dia bertindak seolah tidak terjadi apapun kemarin. Hal semacam ini yang membuatku merasa bahwa aku betul-betul menemukan pria yang tepat.

Entahlah, mungkin gadis lain tidak suka bila masalah yang dia miliki tidak segera dibahas dan diselesaikan. Tapi aku, lebih suka seperti ini. Diperlakukan sehangat biasanya, membuatku merasa kami masih saling memiliki. Setelah seperti itu, semua masalah menjadi lebih mudah untuk diselesaikan.

🙂


Still Marry Me


happy ending

Everyone want to have a happy ending in their life.

Bulan Pertama

Ugghh!

Dengan sebal, aku ulangi sekali lagi panggilan cepat di ponselku. Nada sambung sudah sampai batasnya dan akhirnya terputus lagi. Aku melempar ponselku dengan kesal ke atas kasur, dan mengacak-acak rambut frustasi.

Apa sih yang sedang dia lakukan? Ahh~ pasti main game lagi! Resepsinya tinggal 3 bulan lagi, kenapa dia bisa sesantai ini?!

***

Cup

Aku merasakan rasa nyaman menyebar dari pipi kananku. Bibirku melengkungkan senyum, sambil ku buka mataku perlahan.

“Selamat pagi, Sayang.”

Aku yang baru saja terbangun  langsung menambahkan lengkungan di bibir ketika melihat wajah yang amat aku sayangi itu berada tepat di depan mataku. Senyuman dan aroma yang sangat aku rindukan.

Senyum inikah yang nantinya akan aku lihat pertamana kali tiap aku bangun? Aku sangat beruntung telah memilikimu.

Senyumku memudar, tepat ketika kesadaranku kembali penuh. Mengingat kejadian semalam, ketika dia tak mempedulikan messange yang aku kirim dan berapa banyak telponku yang sengaja tidak dia angkat. Aku putar tubuhku, hingga membelakanginya. “Aku tidak mau jadi istri kedua dari orang yang sudah menikahi game!” ucapku kesal.

Aku masih bisa mendengar tawanya yang khas, meski dia mencoba menahannya. Aku makin cemberut.

“Kau bilang mau ke percetakan? Bukankah undangan yang kita pesan harus diambil?”

“Cepat mandi sana, biar cantik.” sambungnya.

Aku sontak bangun, duduk menghadapnya,”Jadi katamu, aku tidak cantik?”

“Kau pikir siapa yang akan bilang cantik, kalau rambut saja urakan begini..” sambil memegangi rambutku dengan jari-jarinya seolah itu sesuatu yang menjijikan, “.. belum lagi baunya.. hummpp.” Dia segera menutup hidungnya jail.

“Tapi, mamah bilang aku cantik.” Protesku.

Dia tersenyum simpul, dan dengan lirih berkata “Aku juga bilang kamu cantik.”

Aku terperangah. Meskipun telah mengenalnya bertahun-tahun, tapi tetap saja ada hal yang menbuatku terkejut. Kemudian tersipu. “Apa? Tadi bilang apa?”

“Emm.. bilang apa yah? Hahaha..” Dia hanya memarkan barisan giginya yang rapih.

Dengan jail aku kitik-kitik pinggangnya,”Tadi bilang apa?”

Dia melesat keluar kamarku dengan tertawa. Aku mengejarnya, dan mendapatkan dia bersembunyi di balik pundak mamaku. “Ma, itu Ara nakal..” Mama hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Curang, cibirku.

***

Bulan Kedua

“Araa, awas.. “

Hei! Aku ini calon istrimu. Harusnya hanya aku yang kau lihat. Kenapa kau malah menyuruhku untuk tidak menghalangi pandanganmu dari layar televisi itu?!

Aku sengaja berdiri di depan televisi, mencoba mengalihkan perhatiannya. Tapi dia malah memiringkan kepalanya, serentak dengan gerakan tubuhku ke kanan dan ke kiri agar tetap bisa melihat gadis-gadis cantik yang memamerkan gerakan tubuhnya yang energik.

Kesal dengan kelakukannya. “ Sudahlah, pulang saja sana!” sambil berlalu meninggalkannya dan pergi menuju kamarku. Berharap dia merasa bersalah, kemudian mengikutiku dari belakang dan  memohon agar mendapakan maafku.

Tapi, sampai aku berada di dalam kamar. Tak ada suara apapun dari belakang punggungku. Aku balikkan badanku, tak ada seorangpun.

Dia sama sekali tak merasa bersalah? Aku makin kesal.

Samar-samar aku mendengar suara motor dinyalakan. Dari balik jendela kamarku, aku melihatnya betul-betul pergi meninggalkan rumah.

Ugghhh! Benar-benar tidak peka!

***

Bulan Ketiga

Sebal. Bukankah sekarang hari minggu. Aku sengaja menemuinya hanya ingin menghabiskan hari liburku bersamanya. Kenapa dia masih saja menatap laptopnya. Aku ada di sini tapi dia sangat tak acuh padaku, seolah aku tak ada sama sekali.

Aku berdiri dari sofa yang ku duduki dan menghampirinya, “Sedang bikin apa sih, Sayang?” kulihat layar laptop dari belakang pundaknya.

“Proposal ini harus aku selesaikan hari ini.” Jawabnya singkat.

Dengan kesal aku kembali duduk di sofa. Ahh~ aku tak ingin dikalahkan oleh laptop sialan itu!

Maka aku kembali berdiri, berjalan menujunya. Sambil sedikit kutempelkan daguku di pundaknya, aku berkata semanis mungkin, “ Mau kubuatkan teh hangat?”

Dia hanya mengangguk, tanpa melirikku sekalipun.

Aku makin kesal. Setelah kubuatkan teh hangat kesukaannya, aku letakkan tepat di samping laptopnya. Dia tidak bereaksi sedikitpun. Tak ada senyuman. Tak ada ucapan terima kasih. Pandangannya amat serius pada laptopnya itu. Aku tak suka melihanya seserius itu. Iseng aku kitik-kitik pinggangnya. Ahh~ akhirnya aku mendapatkan perhatiannya.

Tapi dia hanya berbalik sebentar,” Aku sedang bekerja, Naraya.”

Aku kembali menuju sofa. Duduk di sana tanpa berkata-kata dan memalingkan wajahku darinya. “Aku tidak ingin menikah jika cuma untuk dinomor duakan. Pergi sana.”

Berharap setelah mendengar kata-kataku, dia akhirnya menyadari beratapa dia tidak ingin kehilangan aku. Dan memohon untuk tetap menikah dengannya.

“Ara..”

Aku tersenyum puas, akhirnya dia akan memulai permohonannya padaku.

“Tapi ini rumahku. Kenapa kau menyuruhku pergi?”

Gondok bercampur malu. Aku bergegas meninggalkan ruangan itu.

Aku mematung di beranda. Sial! Umpatku. Ini sudah terlalu malam untuk pulang sendirian. Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku memintanya untuk mengantarku pulang, kan?

Tiba-tiba, aku merasakan seseorang meraih tangan kananku dari belakang. Menggenggamnya lembut.

“Araa, jangan terlalu sering marah. Nanti malah cepat tua.”

Aku menekuk mukaku. Bukannya mengucapkan kata-kata manis, malah meledekku!

Diantara kikikannya yang dia tahan, dia berkata lagi,” Jangan marah terus. Sekarang kan malam terakhir kita. Besok-besok kita tak bisa bertemu lagi. Aku tak akan tenang jika hari ini berakhir tanpa melihat senyum di wajahmu. Senyummu malam ini akan menjadi bekalku selama tiga hari kedepan, sampai kita bertemu lagi di hari pernikahan kita..” Aku perlahan berbalik menatapnya, dan tersenyum haru.

“Ayo, kuantar kau pulang.”

***


Because You Loved Me

Jika ada kata-kata yang lebih indah untuk mengucapkan ‘terima kasih’, maka kata itu aku sisipkan di tiap kata yang aku ucapkan padamu. Untuk setiap detik yang kau relakan berada di sampingku. Untuk setiap hal-hal salah yang aku lakukan, kau mengoreksinya dan membuatnya menjadi sebuah kebenaran. Untuk setiap kebahagiaan yang kau ciptakan untukku. Untuk setiap impian yang kau buat menjadi nyata. Dan untuk semua cinta yang kau berikan untukku…

Jika ada kata-kata yang lebih tepat untuk mengungkapkan rasa syukurku atas hadirmu, maka kata itu aku ucapkan di tiap tarikan nafasku ketika bersamamu. Karena kaulah mataku ketika aku tak bisa melihat dengan benar. Karena kau adalah telingaku saat dengung-dengung kebisingan muncul yang membuatku tak dapat mendengar dengan jelas. Karena kau yang akan melengkapi ucapanku saat aku kehilangan kata-kata. Karena kau adalah kekuatanku.

Kau bisa melihat yang terbaik dari dalam diriku, saat yang lain tak melihatnya. Atau bahkan aku sendiri tak menyadarinya. Kau selalu bisa membuatku bangkit lagi ketika aku terpuruk. Kata-katamu selalu bisa menenangkan di saat hatiku gundah. Dan kau adalah orang pertama yang akan membelaku jika sesuatu yang buruk menimpaku. Aku bisa menjadi hebat karena kau mencintaiku.

Kau memberiku sayap sehingga aku dapat terbang tinggi menukik langit, berputar-putar di antara awan. Kau membuatku dapat memetik bintang dan bermain-main di tengah rembulan. Ketika aku mulai ragu, kau akan meyakinkanku lagi bahwa segalanya bisa kita lakukan.

Aku mendapatkan cintamu, dan aku tak butuh apapun lagi karenanya.

Aku bersyukur untuk setiap hariku yang kau buat menjadi istimewa. Mungkin aku tak tahu banyak hal, tapi yang pasti aku tahu.. Aku mencintaimu. Dan aku merupakan orang yang paling beruntung karena mendapatkan cinta darimu.

Hidupku lebih menyenangkan semenjak ada dirimu.

terinspirasi dari Because You Loved Me by Celine Dion dan yang membuat hidupku menjadi lebih menyenangkan :)

Marry You

Festival musim panas. Kami benar-benar bersenang-senang di pasar malam sambil menunggu pesta kembang api dimulai. Dia menarik tangannku sambil sedikit berlari setiap kali selesai dari wahana yang satu menuju wahana yang lain. Aku tertawa semangat, mulai dari komedi putar sampai kincir angin. Hampir semua tak terlewatkan.

Dia sepertinya gemas saat melempar bola untuk yang ketujuh kalinya, tapi tetap tidak mengenai sasaran boneka tedy bear besar. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya. Di permainan menangkap ikan pun sama saja, tak ada ikan yang bisa kami tangkap. Hanya jaring yang terbuat dari kertas saja yang bisa kami buat berlubang. Tapi kami sangat menikmati setiap detik yang kami lewati.

Dia membelikanku kembang gula merah muda. Manis. Kami memilih duduk di rumput taman untuk menunggu kembang api pertama dinyalakan.

“Indah nyaaa…” kataku sedikit berteriak masih memegang kembang gula merah muda, saat kembang api meledak memercikkan sinar-sinar kecilnya ke berbagai sudut langit yang hitam.

Dia tak berkomentar apapun. Hanya menatap langit. Dan tiba-tiba saja berguman, “..i think i wanna marry you.”

Serentak kupalingkan wajahku padanya, entah karena tak percaya dengan ucapannya atau memang ucapannya yang tak terlalu jelas yang seolah jika kutatap dirinya kata-katanya bisa aku dengarkan lagi.

Dia mulai tak menghiraukan taburan api-api kecil yang terbakar di langit dan menghadapkan wajahnya padaku sambil tersenyum. “Iya, kita menikah yuk..”

Aku melongo.

Memang bukan cara melamar yang biasa aku lihat di film-film drama romantis. Memang tak ada acara makan malam di restoran berbintang dan cincin yang diselipkan di antara es krim. Tak ada alunan musik romantis, atau seikat bunga mawar. Tak ada lututan sambil membuka kotak kecil berisi cincin. Tapi entah mengapa, ajakannya menikah yang dia ucapkan di bawah pesta kembang api ini benar-benar hal yang paling romantis yang pernah aku lihat.

Aku mulai tersenyum sambil terkekek kecil, “..tentu saja. Yes, i do. “


Thank You, Allah

Kemarin malam, mamah mengajakku keluar rumah hanya dengan berjalan kaki. Sesuatu yang hampir tidak pernah lagi kulakukan sejak ada skuter yang selalu menemani tiap perjalananku. Tidak jauh memang, hanya beberapa ratus meter. Dan kebiasaan jika berjalan bersama beliau, aku pasti selalu mengapit lengannya ke tanganku, membuatku selalu berada di sampingnya. Sepanjang perjalanan kami isi dengan obrolan ringan.

Obrolan ringan terhenti ketika seorang penjual krupuk dengan sepeda terlihat di matanya. Sudah malam memang, krupuknya belum juga habis terjual. Tersisa beberapa. Mamah menunjukkannya padaku dan berkata,”Coba lihat, bibi penjual krupuk itu sudah semalam ini masih belum juga pulang. Rumahnya jauh dari sini. Krupuknya juga masih tersisa. Sekeras itu dia bekerja.”

Continue reading